Prolog Perjalanan menuju samudera
Prolog (part 1)
PERJALANAN MENYUSURI SAMUDERA
![]() |
| www.google.com |
Gadis perempuan memulai perjalanan panjangnya menyusuri lautan samudera. Membuat sejarah bagi hidupnya sendiri. Dari Desa kecil Dia datang ke kota pendidikan sana, untuk melakukan implementasi dari mimpi yang selama ini Ia susun rapi dalam selembar kertas diarynya. Tak ada yang mengenalnya disana, semuanya asing seperti burung merpati yang tersesat dalam sangkar burung nuri. Gadis desa itu percaya diri sekali akan masuk perguruan tinggi negeri, padahal pesaingnya sudah berlari lebih dulu mendahuluinya.
Sesungguhnya ada banyak keraguan yang Ia curahkan dalam sepertiga malam, galeri sepertiga malam itu selalu merekam dengan baik keluh kesah sang gadis. Ia memulai pewujudan mimpinya dengan mendaftarkan diri pada lembaga bimbingan belajar, dasar nekat!. Seperti masuk dalam jurang belantara, Ia kaget bukan kepalang. 1.200.000-3.400.000 tarif per paketnya, mungkin cukup untuk membeli smartphone baru yang cukup canggih. Apalah daya sang gadis Desa itu, demi hasrat pewujudan mimpinya, Ia pilih paket 10 hari tarif 1.200.000 dengan kelompok saintek.
Hari beranjak senja, mata mungilnya kian terbelanga. Bersiaplah Ia untuk memulai perjalanan hari pertamanya melewati samudera. Kimia, mipa, fisika, biologi, matematika, bahasa Indonesia, bahasa inggris, TPA, semua di telannya dalam 10 hari dengan berlembar materi dan kilatnya tempo berbicara sang tentor. Sehari ikut bimbel, esoknya langsung ada try out. Try out pertama untuk sang gadis, dan try out kedua untuk lembaga bimbingan itu. Ia terbelanga bagaikan melihat wanita tanpa kepala berjalan di tengah malam. Sugguh luar biasa soal yang didapati sang gadis. Dan gadis itu hanya mendapat score 21% dari seluruh perjuangannya.
Kemudian gadis desa itu merasakan konflik batin yang dituangkan dalam galeri sepertiga malamnya. Konflik apa yg ia dapati? Dia merasa berada pada puncak frustasi, tekanan untuk mengikuti ujian SBMPTN dan tekanan untuk lulus ujian selalu berkecamuk dalam pikiran dan hatinya. Pada hari terkhir, seluruh peserta bimbel mendapatkan undangan seminar di IONS Yogyakarta. Metode gambling dipaparkan oleh tentor yang sangat cerdas. Gadis kecil itu menengadahkan pandangannya, mencoba berkonsentrasi seraya sedikit tertawa bersama rekan sebangkunya. SBMPTN itu bukan hanya pertarungan kecerdasan, tapi juga pertarungan logika dan keberuntungan. Gadis itu lalu keluar dari puncak frustasinya, dan bersemangat untuk ujian SBMPTN yang telah didepan mata.
Fajar mulai menyongsong, hari ujian telah tiba. Gadis desa itu bergegas menata hijabnya lalu pergi menyusuri gedung 4 lantai. Ruang 420, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah arena pertarungannya melawan ketidakmungkinan. Dengan mudah Ia isi kertas masa depan, sangat teliti hingga tak ada satu nomorpun Ia lewati. Setelah itu Ia kembali ke tanah kelahiran untuk menunggu hasil dari pertarungannya.
Sepucuk surat dari system telah tiba, jantung Gadis itu bergetar seperti petir menyambar konduktor. Tak kuasa ia menahan derasnya air hujan yang mengguyur, membuat ombak semakin besar menggulung dan menyapu seluruh rumah pasir yang ia bangun dengan kucuran keringat. Egois sekali, hujan dan ombak telah menghancurkan mimpi sang Gadis desa. Rasanya tak ada lagi yang Ia harapkan, kedua kalinya Ia berada pada puncak frustasi. Ia hanya mampu menceritakan segalanya pada purnama, dengan suara bisikan lirih penuh nada merajuk dan terisak.
Dalam istikharah menjelang tidur Ia berdo’a mengharap yang terbaik untuk setiap langkahnya. Lalu di pertemukanlah Gadis itu dengan kampus swasta di tanah kelahirannya sendiri. Ia ditawari ikut beasiswa bidimisi di kampus itu, dengan segala persyaratannya. Tak ada yang istimewa dari kampus itu, memang baru berusia 6 tahun saja. Kemudian Gadis itu menemukan kenyamanan, kedamaian, dan ketenangan, seperti Ia sedang menari dalam lembah bunga tulip yang menawan. Semakin hari kampus itu semakin berkembang, dan Gadis itu benar-benar menemukan perasaan cinta kepada kampus swasta itu. Lalu apa yang terjadi pada gadis desa itu setelahnya???? Ikuti saja lanjutannya pada prolog part 2 nanti.

Komentar
Posting Komentar